Kasus Pembunuhan di Surabaya: Pelaku Bayar Jasa Pijat Plus-plus Pakai Uang Kuliah

Polisi masih mendalami kasus pembunuhan yang dilakukan Yusron Ferlangga (19) terhadap wanita bernama Octavia Widiyawati alias Monik (33). Yusron tercatat sebagai mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, Jawa Timur.

“Saya masih kuliah, ambil management,” aku Yusron saat dihadapkan kepada para awak media di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (17/6).

Korban pembunuhan di sebuah kamar kontrakan di Lidah Kulon 2B No. 20, Surabaya itu diketahui tukang pijak panggilan. Yusron mengaku telah mengorder melalui aplikasi.

Mirisnya, uang untuk membayar Monik adalah uang kuliah yang baru diberikan oleh orangtua Yusron. “Uang yang saya buat bayar pijat itu uang kuliah. Dikasih sama mama,” kata Yusron.

Pemuda bertubuh kurus itu mengaku mengenal korban dari Facebook. Dari situ akhirnya terjadi kesepakatan bahwa pijat plus dilakukan di rumah kontrakan mamanya tersebut.

“Saya hubungi dia lewat aplikasi. Perjanjian awal tarifnya Rp 950 ribu, pijat full service selama 90 menit. Namun dia hanya memijat sekitar 45 menit, belum sampai selesai,” terangnya.

Selepas memijat, korban Monik menawarkan jasa berkencan atau berhubungan badan sesuai kesepakatan. Setelah melakukan hubungan layaknya suami istri, Monik minta tambahan uang tip dengan berteriak-teriak memaksa.

“Setelah hubungan badan, dia berteriak-teriak sambil minta tambahan uang tip. Maksa-maksa. Karena takut terdengar tetangga dan takut digrebek warga, akhirnya saya tusuk dengan pisau lipat dua hingga tiga kali,” aku Yusron.

Yusron juga mengaku, sebelum menusuk korban dia sempat membekap mulut korban dan sempat membakar kaki korban. “Awalnya saya berniat membakar dia dan sempat kena kakinya, tapi karena tidak tega maka saya tidak melanjutkan membakarnya,” tambahnya.

Setelah korban tak bernyawa, Yusron kemudian mengambil sebuah kardus bekas bungkus kulkas lalu ditutupkan ke tubuh korban. Selanjutnya dia berdiam diri di ruang belakang, memutar otak agar aksinya itu tak ketahuan.

Malam itu, Yusron memutuskan pergi ke rumah Bibinya di Mojokerto. “Saya tidak langsung melarikan diri, saya masih di rumah. Kemudian saya ke rumah bibi di Mojokerto untuk berunding masalah ini,” tandasnya.

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.