Permohonan Banding Ditolak, Dua Pemerkosa Gadis Badui Dihukum Mati

KABARINDONG- Permohonan banding Muhammad Saepul ditolak Pengadilan Tinggi (PT) Banten. Saepul tetap dihukum mati karena memperkosa dan membunuh gadis Baduy.

Demikian juga dengan pelaku lainnya, Furqon. Sebelumnya, Furqon hanya dijatuhi 15 tahun penjara oleh PN Rangkasbitung.

“Muhammad Saepul, dkk akhirnya ‘dihukum mati oleh majelis Hakim Tinggi PT Banten,” kata jubir PT Banten, Binsar Gultom Kamis (24/4/2020).

Putusan banding diketuai oleh Hakim Ennid Hasanuddin dengan majelis Iersyaf dan Binsar M. Gultom. Vonis dijatuhkan Rabu 22 April 2020 kemarin.

“Perbuatan para terdakwa tersebut sangat keji, kejam dan sangat sadis karena memperkosa perempuan yang tidak bernyawa secara bergiliran, maka pria bejat seperti itu tak pantas diberi hidup di negara hukum ini,” ucap Binsar.

Diketahui Kasus pembunuhan dan pemerkosaan remaja gadis Baduy berusia 13 ini terjadi pada Jumat 30 Agustus 2019. Peristiwa keji ini berlangsung di sebuah gubuk area ladang perkebunan di Cisimeut, Lebak, Banten.

Ketiga pelaku pembunuhan dan pemerkosaan gadis Baduy dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Ketiganya, diduga sudah menyusun rencana pembunuhan dan mengintai korban selama satu bulan.

“Iya, makanya ancamannya seumur hidup. Kita upayakan itu (Pasal 340 KUHP),” kata Kapolres Lebak AKPB Dani Arianto di Mapolda Banten, Jl Syekh Nawawi Al Bantani, Serang, Kamis (5/9/2019).


Dari hasil pemeriksaan, ketika pelaku, yaitu AMS alias E (20), F (19), dan A (16), membagi peran masing-masing. Pemantauan oleh pelaku juga sudah dilakukan selama kurang-lebih 1 bulan terhadap korban. Pelaku sempat berkali-kali datang ke saung korban untuk menawarkan handphone. Dari situ, pelaku melihat situasi sebelum melakukan kejahatan.

“Ini sudah direncanakan, siapa yang memperkosa duluan, siapa harus begini, (siapa) berbuat apa,” katanya.

Warga Kadugetug, Sardi, mengatakan pembunuhan yang disertai pemerkosaan itu merupakan tindakan keji. Warga Baduy Luar mendengar peristiwa ini dan sangat mengecam pelaku.

Tapi, peristiwa ini lanjutnya tidak mengubah sikap Baduy ke orang asing yang bertujuan wisata ke Kanekes. Bagi warga Baduy, ada larangan meneteskan darah di tanah adat.

“Di Baduy, jangankan membunuh, meneteskan darah aja nggak boleh. Apalagi membunuh, itu total nggak boleh,” kata Sardi, Serang, Banten, Jumat (6/9/2019)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.