Pangeran yang Tak Pernah Rasakan Pelayanan Keraton Surakarta

BRM Muhammad Munier Tjakraningrat: Pangeran Surakarta yang Tersingkirkan

Muhammad Munier Tjakraningrat rupanya tak pernah merasakan nikmatnya hidup di Keraton Surakarta atau Solo maupun Keraton Yogyakarta. Kendati, pria setengah abad yang tinggal di Pamulang, Kota Tangerang, Banten ini berdarah Ningrat atau keturunan raja Paku Buwono X, Gusti Raden Mas Malikul Kusno-GKR Hemas Moersoedarinah.

Suaranya terdengar berat ketika menjelaskan silsila keluarganya. Namun demikian, Pak Munir-begitu pria bergelar Bendera Raden Mas (BRM) ini disapa-sangat lancar menjelaskan garis keturunan keluarganya.

Pak Munir menjelaskan trah keluarganya mulai dari Hamengku Buwono VII, Gus Raden Mas (GRM) Moertedjo dengan GKK Kencana II, BRAj. Ratna Sri Wulan. Hasil pernikahan raja dan ratu tersebut, melahirkan GKR Hemas/Mas, GRAj. Moersoedarinah.

“Nah, Ratu Hemas Moersoedarinah, ini nenek saya,” ujar pria yang piawai menservis sepeda ini.

Saat Moersedarinah menginjak dewasa, putri Keraton Yogyakarta tersebut dipinang Raden Mas Malikul Kusno yang akhirnya didapuk sebagai Paku Buwono X. Dari pernikahan Paku Buwono X dengan Ratu Hemas dikaruniai seorang putri yang diberi nama Sekar Kedaton Koestiyah.

“Ya, (dikaruniai) hanya satu orang anak,” kata Pak Munir.

Karena hanya anak satu-satunya, Paku Buwono X pun memperlakukan Sekar Kedaton Koestiyah seperti anak emas. Paku Buwono kerap mengajak putri semata wayangnya tersebut dalam kunjungan.

“Saya lihat itu dari dokumen foto-foto Paku Buwono X. Dalam foto, ibu saya (Sekar Kedaton Koestiyah) selalu ada di antara Paku Buwono dan Kanjeng Ratu Hemas,” kata Pak Munir seraya menunjukkan beberapa foto jadul melalui telepon genggamnya.

Lebih lanjut Pak Munir menjelaskan, setelah Sekar Kedaton Koestiyah mengijak dewasa, proses perjodohan mulai dilakukan. Oleh Paku Buwono X, putri semata mayangnya tersebut dijodohkan dengan pria berdarah Ningrat asal Madura. Yakni Muhammad Sis Tjakraningrat.

“Nah dari perkanikahan Sis Tjakraningrat dengan Sekar Kedaton Koestiyah inilah, dikaruniai 4 orang anak. Salah satunya saya,” katanya.

“Anak pertama dan kedua perempuan, kemudian saya dan adik saya laki-laki,” sambung Pak Munir.

Setelah resmi dipinang Sis Tjakraningrat, kata Pak Munir, ibunya diboyong ke Madura. “Saya pun lahirnya di Madura,” katanya.

Pak Munir menceritakan awal-awal ibunya diboyong oleh sang ayah dari Keraton Surakarta ke pulau Garam-sebutan Pulau Madura. Saat itu, diceritakan, bahwa ibunya masih mendapat pelayanan layaknya seorang putri kerajaan.

“Ibu sendiri yang cerita. Kalau awal-awal menikah dan tinggal di Madura, masih ada belasan Abadi Dalem dari Keraton yang ikut,” tutur pria empat anak ini.

Itu karena, lanjut Pak Munir, ibunya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti kaum ibu pada umumnya. “Ibu saya itu nggak bisa apa-apa. Dalam artian, tidak bisa memasak, mencuci pirim atau pakaian. Tidak bisa nyapu lantai, atau pekerjaan rumah lainnya. Mungkin karena dari kecil ibu selalu diajak kakek ke mana-mana,” ungkapnya.

Namun berjalannya waktu, belasan Abdi Dalem yang dikirim dari Keraton Surakarta dipulangkan oleh Sis Tjakraningrat. Peran, Abdi Dalem Keraton itu pun digantikan oleh keluarga Tjakraningrat.

“Tapi dibalikinnya tidak sekaligus. Dari 18 orang Abdi Dalem, lima orang dipulangkan ke Solo. Terus 5 orang lagi, sampai tidak tersisa. Peran Abdi Dalem dari Solo digantikan oleh saudara-saudara dari bapak,” katanya.

Ditanya, apakah sempat merasakan pelayanan dari Abdi Dalem Keraton? Pak Munir mengaku tidak. Yang sempat merasakan, kakak pertamanya. “Kata Ibu, kakak saya yang pertama sempat merasakan. Tapi waktu itu masih kecil,” ujarnya.

Kehidupan ibu Pak Munir terasa semakin jauh dari Keraton, setelah sang ayah mendapat tugas menjadi Residen Kepulauan Pulau Riau di Tanjung Pinang dan Residen Riau Pakanbaru (Provinsi). Bertahun-tahun tinggal di daerah yang jauh dari Keraton, kesempatan bersilaturahmi dengan keluarga Keraton pun semakin jarang. (Bersambung)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.