Dijuluki Ketua RT Seumur Hidup dan Piawai Servis Sepeda

BRM Munier Tjakaraningrat: Pangeran yang Dipinggirkan

Penampilannya sederhana, ramah dan tutur katanya lembut. Begitulah sosok BRM Munier Tjakaraningrat. Orang-orang memanggilnya Pak Munir. Ia mantan Ketua Rukun Tetangga (RT) di salah satu wilayah di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Saking baiknya, warga menjuluki Pak Munir sebagai Ketua RT seumur hidup. Itu karena, meski tidak lagi menjadi Ketua RT, kepedulian Pak Munir terhadap warga tidak luntur.

“Beliau Ketua RT yang sesungguhnya. Ketua-ketua setelah Pak Munir hanyalah pengganti. Julukan RT seumur hidup kami sematkan karena kepeduliannya terhadap kehidupan warga di RT kami.”

Pak Munir juga membaur. Bahkan, ia ikut berkomunitas dengan warga Pamulang yang hobi bersepeda. Selain itu, tak jarang Pak Munir ikut menemani warga ngopi atau bermain kartu sekadar buat seru-seruan.

Tak hanya itu, Pak Munir juga piawai membetulkan atau servis sepeda yang rusak. Warga yang sepedanya rusak pun tak canggung minta tolong kepada Pak Munir untuk dibetulkan. “Beliau adalah mekanik gratisan bagi semua tetangganya. Setiap hari ada aja orang yang mencarinya, minta tolong inilah, itulah.”

Namun tidak banyak yang tahu, kalau Pak Munir bukan orang sembarangan. Pria yang rambutnya mulai memutih ini merupakan salah satu keturunan pangeran dari Raja Surakarta. Dengan gelar K. P. H. Pakuningrat di Keraton Hadiningrat yang sandangnya, Pak Munir selayaknya mewarisi tahtah raja.

Dari silsilah, Pak Munir merupakan keturunan raja atau ratu, bukan dari istri selir seperti raja yang sekarang. Ia adalah cicit dari Hamengku Bowono (HB) VII, Keraton Yogyakarta sekaligus cucu Pakubuwono (PB) X, Keraton Surakarta. Dan, Pak Munir putra tertua G.K.R Pembayun, satu-satunya keturunan PB X dari jalur permaisuri Ratu Hemas (yang merupakan putri Hamengkubuwono VII).

Karena jenis kelaminnya, G.K.R Pembayun tidak bisa mewarisi tahta Keraton Surakarta. Dia belum menikah dan belum punya putra kala itu. PB X harus mewariskan tahtanya ke PB XI yang merupakan anak dari salah satu selirnya.

PB XI selanjutnya menurunkan tahta ke PB XII yang juga anak dari seorang istri selir. Begitu juga tahta diteruskan oleh PB XIII juga melalui trah istri selir.

PB XI dan PB XII memang tidak pernah memiliki permaisuri yang seharusnya menjadi syarat bagi pangeran pewaris tahta kerajaan. Karenanya, proses peralihan tahta PB XI, PB XII dan PB XIII, selalu diwarnai konflik dan ketegangan.

Pertentangan antar trah selir-selir saling berbenturan dalam menentukan yang paling sah menyandang mahkota kerajaan. Bahkan keabsahan raja yang sekarang terus dipergunjingkan.

Sementara, Kanjeng Sinuhun K. P. H. Pakuningrat, Mohamad Munir, terpinggirkan dalam percaturan tahta kerajaan. Kemungkinan statusnya sebagai pewaris sah berusaha dikaburkan penguasa sekarang.

Kanjeng Sinuhun Munir harus hidup terasing di daerah Pamulang. Pria bertubuh kurus ini pun memilih tinggal di rumah sederhana tanpa penghormatan maupun fasilitas kerajaan.

“Kanjeng Sinuhun iki rojo kok keleleran ngene rek (Pak Munir ini raja, kok terasingkan gini ya?” candaan warga saat minta beliau membetulkan sepeda.

“Capek mas, Berat mas. Terlalu banyak kepentingan Mas,” begitu Kanjeng Sinuhun Munir memulai cerita kegagalannya mengembalikan kehormatan Keraton Surakarta (Bersambung…)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.