Satu Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Milisi Kongo

Kabar duka datang markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Demokratik Kongo. Seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang turut mengemban misi penjaga perdamaian di Republik Demokratik Kongo gugur akibat serangan milisi di negara tersebut, pada Selasa (23/6).

Hal itu dilaporkan pejabat komunikasi pasukan penjaga perdamaian PBB (MONUSCO) Sy Koumbo. Menurutnya, serangan milisi terjadi sekitar 20 km dari kota Beni di Provinsi Kivu Utara.

“Seorang personil Helm biru gugur dan lainnya terluka tapi tidak serius. Dia dalam kondisi stabil,” papar Sy Koumbo pada AFP.

Komandan MONUSCO Leila Zerrougui pun melontarkan kecaman atas serangan tersebut. Menurut dia, serangan dilancarkan oleh anggota Pasukan Aliansi Demokratis (ADF), kelompok bersenjata yang kerap melakukan kekerasan di wilayah timur Kongo.

“Tentara itu sedang terlibat dalam proyek pembangunan jembatan di wilayah Hululu,” ungkap Leila Zerrougui.

ADF merupakan gerakan yang berasal dari Uganda pada 1990-an, yang menentang pemerintahan Presiden Uganda Yoweri Museveni.

Pada 1995, ADF pindah ke Kongo yang kemudian menjadi basis operasionalnya meski tidak melancarkan serangan di dalam wilayah Uganda selama beberapa tahun.

Menurut data PBB, ADF telah menewaskan lebih dari 500 orang sejak akhir Oktober, saat militer Kongo melancarkan serangan terhadapnya.

ADF telah menewaskan 15 tentara PBB di pangkalan mereka dekat perbatasan Uganda pada Desember 2017 dan tujuh orang gugur dalam serangan pad Desember 2018.

Komandan Pusat Misi Pasukan Perdamaian (PMPP) Mayjen TNI Victor Hasudungan Simatupang mengaku terpukul atas gugurnya prajurit TNI, Serma Rama Wahyudi saat tengah menjalankan tugasnya sebagai pasukan perdamaian di Kongo.

“Kami sangat terpukul atas kehilangan prajurit terbaik kami di Kizi Monusco dan berduka yang mendalam,” ujarnya.

Selain mengucapkan rasa duka yang mendalam, Victor juga mengutuk aksi penyerangan yang dilakukan oleh militan di Kongo karena TNI rela membantu menyelesaikan pertikaian yang berkepanjangan di Kongo.

“Kami juga akan mengurus almarhum sampai pemakaman dan pengurusan hak-hak yang bersangkutan baik dari UN dan dari Pemerintah kita,” ucapnya.

Menurut Victor, ini merupakan peristiwa pertama yang dialami prajurit TNI selama bergabung dengan pasukan perdamaian PBB. “Ada 1.054 personel yang bertugas di Kongo. Ini (prajurit TNI gugur) yang pertama,” ucapnya. (yab/kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.