Banyak Gunakan Dollar Jadi Alasan PLN Terus Merugi

PT PLN (Persero) adalah satu-satunya perusahaan yang menjual listrik ke masyarakat seluruh Indonesia. Atau bisa dibilang Perusahaan plat merah ini memonopoli bisnis penjualan listrik di tanah air.

Namun meski menjadi satu-satunya perusahaan yang menguasai bisnis penjualan listrik nasional, tapi PLN masih tetap terus mengalami kerugian hingga Rp 38,88 triliun pada kuartal I 2020. Kok bisa?

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril, menjelaskan perusahaan merugi karena banyak operasional PLN menggunakan dolar Amerika Serikat. Ketika rupiah tertekan dolar AS hingga menyentuh Rp 16.000, perusahaan harus menelan selisih kerugian kurs.

“Selisihnya itu menjadi beban operasi perusahaan,” kata dia dalam dalam diskusi live, Jumat (19/6).

Bertambahnya beban operasi perusahaan ini berpengaruh pada biaya produksi listrik PLN yang lebih mahal ketimbang harga jual atau tarif listriknya ke masyarakat. Sejak 2017, pemerintah belum menaikkan tarif listrik golongan rumah tangga.

Beban operasional PLN juga bertambah jika melihat tarif listrik pada golongan 450 VA. Sebab sejak 2003, tarifnya tak naik, masih Rp 450 per kWh, jauh dari biaya produksi listrik sekitar Rp 1.500 per kWh.

“Itu saking murahnya listrik di Indonesia. Tapi pemerintah bantu dengan subsidi. Biaya produksi listrik kita Rp 1.500, itu selisihnya disubsidi pemerintah. Jadi, karena ada subsidi, kita enggak merugi sebab ditanggung pemerintah (khusus untuk tarif),” terangnya.

Untuk tahun lalu, subsidi listrik yang diperoleh dari pemerintah pun naik dari Rp 11,52 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp 12,89 triliun di Januari-Maret 2020.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, mengungkapkan penyebab meruginya perusahaan pada tiga bulan pertama tahun ini. Menurut dia, kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS sejak virus corona mulai masuk ke Indonesia.

Zulkifli menjelaskan, nilai tukar rupiah saat itu sempat menyentuh Rp 16.367 per dolar Amerika Serikat. Merosotnya rupiah membuat perusahaan wajib mencatat selisih kurs dalam pembukuannya sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 10.

“Perlu kami sampaikan akhir Maret 2020 terjadi pelemahan nilai tukar terhadap mata uang asing akibat sentimen negatif dan lain-lain. Jadi, itu adalah rugi accounting akibat selisih kurs,” kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (17/6).

Dalam laporan keuangan perusahaan kuartal I 2020 disebutkan, untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2020 dan 2019 (Tidak Diaudit), kerugian terbesar berasal dari tertekannya kurs rupiah terhadap dolar AS.

Total rugi kurs mata uang asing mencapai Rp 51,97 triliun. Sebagai pembanding, pada kuartal I 2019 PLN mencatatkan keuntungan kurs mata uang asing sebesar Rp 4 triliun.

Sementara jumlah beban usaha PLN naik menjadi Rp 78,79 triliun dari Rp 73,635 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan beban usaha terutama berasal dari biaya pembelian tenaga listrik yang meningkat 29,47 persen dari Rp 19,95 triliun di kuartal I 2019 menjadi Rp 25,83 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Meski begitu, pendapatan usaha perusahaan naik. Penjualan tenaga listrik di 3 bulan pertama 2020 mencapai Rp 70,24 triliun, sementara di periode yang sama tahun lalu Rp 66,84 triliun.

Pendapatan dari penyambungan pelanggan bertambah menjadi Rp 1,83 triliun dari sebelumnya Rp 1,607 triliun. Begitu juga pendapatan lain-lain sebesar Rp 622,61 miliar yang lebih baik dibanding Rp 463,32 miliar pada kuartal I 2019 lalu (man/kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.