Jokowi Heran Barang Pokok Naik, APPSI: Jangan Seperti Kura-Kura dalam Perahu

KABARINDONG- Terkait tingginya harga sembako di masyarakat akhir-akhir ini, Presiden Jokowi curiga ada yang berupaya memainkan harga bahan pokok di tengah wabah virus corona. Kecurigaan ia sampaikan saat Rapat Terbatas tentang Antisipasi Kebutuhan Bahan Pokok di Istana Merdeka, Selasa (21/4).

Jokowi dalam pembukaan rapat terbatas tersebut mengatakan harga sejumlah bahan pokok seperti daging sapi, cabai rawit merah, bawang putih, gula, beras dan bawang putih naik di tengah wabah virus corona.

“Untuk harga gula tidak gerak sama sekali. Harga justru naik Rp19 ribu,” katanya.

Tapi kata Jokowi, di tengah kenaikan tersebut, harga gabah di tingkat petani justru turun. Karena itulah ia memerintahkan jajarannya untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang mencari untung besar di tengah penyebaran wabah virus corona.

Menanggapi hal tersebut, para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) merasa aneh dengan kecurigaan Presiden Jokowi atas kenaikan bahan pokok yang terjadi di tengah penyebaran wabah virus corona belakangan ini.

Ketua Umum APPSI Ferry Juliantono mengatakan keheranan disampaikan karena jelas kenaikan memang terjadi akibat permainan mafia distribusi dengan pabrik swasta.

“Aneh bila presiden tidak tahu siapa yang bermain soal distribusi yang permainkan perut rakyat ini? Kami saja yang masih awam bisa tahu ada mafia yang ambil rente/untung gila-gilaan. Jangan lah sampai seperti kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu sehingga ada alasan untuk tidak menindak mafia itu,” katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Rabu (22/4).

Ferry mengatakan kenaikan yang dikeluhkan Jokowi tersebut terjadi akibat permainan. Ia menyebut permainan terjadi bukan karena kenaikan permintaan. Permainan terjadi akibat potensi gangguan pasokan bahan pokok yang terjadi karena impor tersendat. 

“Ini yang dimanfaatkan mafia mencari keuntungan setinggi-tingginya, bahkan kenaikan bisa mencapai 50 persen, seperti pada gula. Biasanya gula dijual Rp12 ribu-Rp13 ribu tapi sekarang bisa sampai Rp19 ribu,” katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Rabu (22/4).

Ia menyebut permainan bisa terjadi karena pabrik gula swasta sudah punya jaringan distribusi dari tingkat whole seller, distributor dan agen. Karena jaringan itulah, pemerintah tidak punya kendali.

Jokowi kata Ferry sebenarnya bisa mengatasi masalah tersebut dengan memerintahkan Kementerian Perdagangan untuk menyikat mafia dengan merombak aturan. Perombakan aturan perlu dilakukan untuk menutup celah permainan mafia. 

“Kalau serius, gunakan kekuasaan presiden, perintahkan menteri perdagangan sikat mafia itu,” pungkas Ferry

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.