Klasifikasi dan Syarat Pembukaan Sekolah di Zona Hijau

Klasifikasi dan syarat pembukaan Sekolah di Zona Hijau pada seluruh wilayah di Indonesia sangat penting dilakukan untuk mengawasi dan mengetahui sejauh mana penyebaran virus corona pada daerah tersebut.

Adanya klasifikasi zona hijau, merah, kuning, dan oranye juga merupakan cara untuk menandakan tingkat bahaya dari pandemi sehingga pemerintah juga nantinya dapat membuat kebijakan penanganan virus corona yang tepat pada daerah tersebut.

Untuk zona hijau sendiri, merupakan kategori wilayah yang menjelaskan bahwa daerah tersebut yakni, kabupaten/kota belum terdampak virus corona. Adapun untuk lebih jelasnya bisa merujuk pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 440-830 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Hidup Baru, kriteria zona hijau sebagai berikut:

Klasifikasi dan Syarat Pembukaan Sekolah di Zona Hijau

1. Kasus jumlah penderita positif menurun selama setidaknya 14 hari Jumlah ODP/PDP menurun selama setidaknya 14 hari.
2. Jumlah kematian yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 menurun selama setidaknya 14 hari.
3. Penularan langsung Covid-19 pada petugas kesehatan menurun.

Tidak hanya zona hijau, bahkan sekolah-sekolah yang akan buka pada wilayah tersebut juga harus memenuhi kriteria atau setidaknya tiga syarat utama pembukaan sekolah, berikut ketiga syaratnya:

1. Berada di zona hijau.
2. Mendapatkan izin dari pemerintah setempat.
3. Memenuhi semua daftar periksa kesiapan membuka sekolah.

Merujuk pada data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menunjukkan bahwa hingga 15 Juni 2020.

Klasifikasi dan syarat pembukaan sekolah di Zona Hijau, ada sebanyak 85 kota/kabupaten di Indonesia yang dinilai aman untuk menyelenggarakan kegiatan sekolah kembali alias masuk kategori zona hijau.

Selama sekolah yang berada dalam zona hijau dibuka kembali, kegiatan pembelajarannya juga tidak boleh terlepas dari protokol kesehatan. Beberapa protokol kesehatan yang harus ditaati oleh setiap sekolah diantaranya:

1. Menyediakan sarana sanitasi dan kebersihan, yakni toilet bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan, dan disinfektan.

2. Kondisi siswa di kelas tidak diperbolehkan penuh. Artinya, jika kondisi biasa ada 30-40 siswa dalam satu kelas, maka pada masa pandemi Covid-19 ini jumlah siswa yang masuk hanya 15 siswa.

3. Dalam masa transisi ini tepatnya pada dua bulan pertama, hanya ada aktivitas di kelas yang artinya, siswa hanya masuk ke kelas dan mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas, setelah itu pulang.

Aktivitas ekstrakurikuler dan kegiatan lain di sekolah yang berpotensi menyebabkan kerumunan banyak siswa akan ditiadakan. Termasuk kantin juga tidak diperkenankan untuk buka. (Rie/Kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.