Mendikbud Sebut SMA Di Zona Hijau Akan Mulai Pembelajaran Tatap Muka

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia ( Wapres RI) Ma’ruf Amin saat meninjau persiapan sekolah menuju tatanan kebiasaan baru. Peninjauan dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (08/07/2020).

Nadiem Makarim dalam kesempatan itu menjelaskan urutan pertama yang diperbolehkan pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas ( SMA dan sederajat).

Dengan demikian, urutan pertama yang diperbolehkan pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas dan sederajat, tahap kedua pendidikan tingkat menengah dan sederajat, lalu tahap ketiga tingkat dasar dan sederajat.

Nadiem memberikan catatan, harus dilakukan sesuai dengan tahapan waktu yang telah ditentukan.

“Namun, begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali,” terang Mendikbud.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres Ma’ruf Amin di depan para kepala sekolah, guru, dan siswa yang turut hadir dalam acara tersebut memberikan pesan agar mengedepankan prinsip kehati-hatian.

“Yang di luar zona hijau belum boleh ikut belajar di kelas. ini artinya ada (prinsip) kehati-hatian,” ujar Wapres.

Ma’ruf Amin berharap sekolah dan pemerintah berkolaborasi dalam melakukan inovasi menciptakan kreasi-kreasi agar pendidikan tetap dibuka dengan protokol kesehatan tetap terjaga.

“Saya lihat tadi yang hadir pakai masker dan juga pakai sarung tangan, kemudian sistem pembelajaran juga dibuat sesi dengan jumlah 12 sampai 18 siswa per kelas,” ujar Wapres.

Ia melanjutkan bahwa inovasi ini yang dikembangkan dapat menjadi contoh dari daerah-daerah lain di zona hijau.

Dalam kesempatan sama Mendikbud memberikan apresiasi atas upaya sekolah mempersiapkan pembelajaran di masa tatanan baru sesui dengan Surat Keputusan Bersama Empat Kementerian (Kemendikbud, Kementerian Agama, Kemenkes dan Kemendagri).

“Ini merupakan contoh yang baik. Terima kasih atas kedisiplinan, gotong royong, dan solidaritas semua pihak,” ucap Mendikbud.

Sinergi dan gotong royong lintas sektor, kata Mendikbud, menjadi faktor utama memastikan pembelajaran di masa pandemi berjalan sesuai protokol kesehatan.

“Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarganya dan masyarakat secara umum merupakan prioritas utama Pemerintah,” tegas Mendikbud.

Mendikbud mengingatkan masa transisi ini menjadi periode penting untuk menetapkan kebiasaan baru, yakni Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang membutuhkan karakter disiplin, mandiri, dan tenggang rasa. (ron/kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.