Gus Falah: Yang Tuduh PDIP Komunis, Salah Minum Obat

Tudingan Persaudaraan Alumni (PA) 212 bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berinisiatif membangkitkan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI) menuai reaksi dari Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Nasyirul Falah Amru atau Gus Falah.

Gus Falah pun menganggap tudingan PDIP sebagai komunis yang ciri utamanya adalah ateis tidak masuk akal. Sebab, seluruh kader PDIP memeluk agama alias beragama.

Sekadar diketahui, meski partai berideologi nasionalis, namun PDIP memiliki organisasi sayap Islam. Ya, Baitul Muslimin Indonesia (BMI) merupakan organisasi sayap PDIP yang dibentuk pada 2007 silam. BMI beranggotakan kalangan muslim. Bahkan tidak sedikit, alumni pesantren yang menjadi pengurus BMI.

“Jangan lupa, PDIP memiliki organisasi sayap bernama Baitul Muslimin Indonesia (MBI) atau Bamusi. Organisasi sayap partai di bidang keislaman yang dibentuk oleh DPP PDIP pada tahun 2007. Bamusi ini beranggotakan kaum muslimin dari berbagai ormas Islam,” ujar Gus Falah dalam pesan singkatnya kepada awak media, Jumat (26/6).

Lebih lanjut Gus Falah mengatakan, hampir di seluruh kantor PDIP mulai dari tingkat DPP hingga DPC di penjuru Indonesia, memiliki masjid atau musala.

“Bahkan, di kantor DPP PDIP terdapat Masjid At Taufieq. Selain di hari besar Islam, Masjid At Taufieq juga selalu menyelenggarakan ibadah shalat Jumat. Bahkan, rekan-rekan dari kantor DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang kantornya bersebelahan dengan DPP PDI Perjuangan juga sering shalat Jumat di Masjid At Taufieq,” tutur Gus Falah.

“Jadi, seluruh fakta yang ada itu menunjukkan PDIP sama sekali bukan komunis. Sehingga para pihak yang selalu menuduh PDIP sebagai komunis itu mungkin ‘salah minum obat’,” sindir Gus Falah.

Berangkat dari fitnah yang mengaitkan PDIP dengan komunis, kata Gus Falah, muncul insiden pembakaran bendera partai berlambang Banteng dalam aksi demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) pada Rabu (24/6).

Demonstrasi itu diikuti ratusan orang dari sejumlah ormas Islam yang menamakan diri Aliansi Nasional Antikomunis. Alinsi itu ialah gabungan organisasi massa dari Front Pembela Islam (FPI), Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF).

Terkait pembakaran bendera, Gus Falah menegaskan, seluruh kader partai tegak lurus dengan komando Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam perintah hariannya, Megawati sudah menegaskan menempuh jalur hukum.

“Sebagaimana perintah harian Ibu Ketua Umum, kami serahkan ke jalur hukum soal pembakaran bendera itu. Kami bukan takut. Kami bisa saja bertindak keras, tetapi Ibu Megawati dan PDIP lebih cinta damai dan menghormati hukum,” pungkas Gus Falah.

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.