Kembali Semprot Luhut, Faisal Basri : Negeri Ini Diatur Seleranya Sendiri

KABARINDONG –  Ekonom senior Faisal Basri kembali mengkritik kinerja pemerintahan Jokowi, terutama kebijakan yang diambil oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan. Setelah sempat menyebut bahwa Luhut lebih berbahaya dari virus corona, kali ini Faisal kembali mencuit kritikan yang tak kalah pedas.

Lewat akun Twitternya, Faisal menyindir Indonesia saat ini diatur berdasarkan selera pribadi. Hal itu dikatakan Faisal mengomentari pernyataan Luhut yang enggan menerapkan lockdown sebelum vaksin corona ditemukan.

Sebagai gantinya, kebijakan PSBB diterapkan pemerintah dalam upaya memutus penyebaran corona.

“Beginilah nasib negeri kalau diatur dengan selera sendiri,” cuit Faisal, Jumat (8/5/2020) sembari menyertakan sebuah tautan berita berisi pernyataan Luhut soal lockdown.

“Spektakuler, dunia harus tahu ada teori baru: lockdown tidak efektif kalau vaksin belum tersedia,” tambah Faisal.

Dengan kata lain, Faisal menilai lockdown justru efektif selama vaksin corona belum ditemukan. Bertolakbelakang dengan Luhut yang menolak lockdown selama vaksin corona belum tersedia.

“Lockdown adalah satu-satunya cara untuk mengurangi jumlah kematian secara signifikan. Namun, tanpa vaksin, lockdown akan memberikan dampak berkepanjangan,” kata Luhut dikutip dari bahan presentasinya saat menjadi pembicara tamu di SMDV-Agaeti Ventures, dikutip Jumat (8/5/2020).

Adapun dampak yang dimaksud seperti penyusutan ekonomi, meningkatnya pengangguran, dan terganggunya distribusi makanan.

“Lockdown akan memberikan dampak berkepanjangan seperti penyusutan ekonomi, pengangguran, gangguan dalam rantai pasokan,” ucapnya.

Luhut bilang, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendistribusikan vaksin ke masyarakat umum. Secepat-cepatnya, membutuhkan waktu setidaknya satu tahun.

“Secara umum, vaksin membutuhkan waktu puluhan tahun untuk didistribusikan kepada publik. Bahkan dengan jalur cepat, itu membutuhkan setidaknya satu tahun,” ujarnya.

Untuk itu pemerintah memilih PSBB. Jika 70% masyarakat patuh terhadap penerapan PSBB, kebijakan itu dinilai akan efektif untuk memutus mata rantai penularan COVID-19.

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.