Tommy Soeharto Turun Tangan Bubarkan Munaslub

Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto akhirnya turun tangan menghadapi kader partainya yang ingin menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Ya, Tommy membubarkan acara Munaslub yang digelar di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (11/7).

Pembubaran Munaslub itu dilakukan Tommy dengan cara represif. Dalam video yang beredar luas di media sosial, putra penguasa Orde Baru tersebut meminta kepada seluruh peserta Munaslub meninggalkan lokasi acara.

“Hari ini mereka harus keluar dari hotel ini,” kata Tommy seperti dalam rekaman video yang beredar.

Dalam video juga terlihat sejumlah pria bertubuh kekar mencopot dan merobek-robek benner Munaslub Partai Berkarya. Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso yang mendampingi Tommy mengatakan, bahwa pencopot dan merobek benner Munaslub merupakan kader angkatan muda Partai Berkarya.

Menurut Priyo, sejumlah kader angkatan muda Partai Berkarya kecewa. Mereka dari kader Laskar Berkarya, Angkatan Muda Berkarya, dari Benteng Berkarya, Barisan Jawara Berkarya.

Tommy bersama para simpatisannya masuk ke audiotorium hotel yang akan dijadikan arena munaslub. Meja-meja sudah disusun rapi, hanya peserta Munaslub belum terlihat.

Kendati pembubaran diwarnai aksi anarkis, namun Tommy meminta para kadernya untuk mengedepankan persuasi kepada pihak-pihak yang ingin melakukan Munaslub. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para pimpinan partai yang terus memberikan dukungan kepada DPP.

“Kita harus mengedepankan persuasi atau hal yang baik, tidak anarkis, dan jaga kebaikan citra partai di mana pun, khususnya di hotel ini,” sebut Tommy.

“Ini ada beberapa DPW yang komit juga dengan DPP, saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Kemarin selesai Rapimnas, 31 DPW hadir dan mendukung penuh secara aklamasi,” lanjutnya.

Sementara itu Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso menyatakan munaslub yang digelar Presidium Penyelamat Partai merupakan perbuatan ilegal. Para inisiatornya pun dipastikan dipecat dari partai.

“Dalam rapat keputusan yang telah dilakukan oleh DPP, dalam rapat plenonya, apa yang menamakan dirinya Presidium Penyelamat Partai itu adalah ilegal, inkonstitusional dan melawan partai. Kemudian rapat memutuskan mereka diberhentikan dari pengurus maupun dari keanggotaan Partai Berkarya,” jelas Priyo dalam kesempatan yang sama.

Priyo menegaskan para pimpinan Berkarya daerah dan organisasi partai merasa terusik dengan Presidium Penyelamat Partai itu. Oleh karenanya mereka melakukan rapimnas dan menuntut agar kelompok tersebut dipecat dari Berkarya.

“Ada sekitar 15 organ-organ partai yang merasa terusik dengan oknum-oknum itu yang kami kira sangat sayangkan mereka agak menjual ini untuk apa kami nggak tahu. Mereka tidak rela kepemimpinan Pak Tommy Soeharto ini diganggu dengan cara yang tidak bermartabat,” tutur Priyo.

Sebelumnya, Wakil Ketua Presidium Penyelamat Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang mengatakan Munaslub dijadwalkan dilakukan pada 11 Juli 2020. Andi menyebut munaslub dilakukan untuk melakukan evaluasi, perubahan, dan pengembangan partai. Andi menuturkan, meski permintaan evaluasi telah disampaikan, selama ini Partai Berkarya belum pernah melakukannya.

“Kami adalah presidium panitia dari pelaksanaan munaslub yang nantinya insyaallah akan dilaksanakan minggu depan tanggal 11 Juli 2020,” ujar Andi dalam konferensi persnya yang disiarkan melalui Zoom, Kamis (2/7). (abe/kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.