NU Sejak Dulu Sudah Siap Bertanding

Kabarindong – Bukan hal yang aneh, ketika bicara kekuasaan, NU (Nahdlatul Ulama) selalu menjadi bulan-bulanan untuk di diskreditkan. Hal yang demikian tidak aneh di kalangan NU. Bahkan kelompok-kelompok kecil yang berseberangan dengan NU saja, apalagi yang nggak rela NU berada pada tampuk kekuasaan, kudu menyerang NU agar dirinya cepat membesar. Jika memang demikian adanya, berarti NU dianggap lawan besar. “Jika ingin besar, cari lawan yang besar.”

Banyak yang mengira anak-anak muda NU itu belajarnya hanya dari pesantren ke pesantren. Padahal tak sedikit anak-anak muda NU jebolan kampus-kampus ternama. Toh, kalau memang cuma belajar di pesantren, ya pesantren itu adalah candradimuka.

Anak-anak Muda NU terdoktrin bahwa “belajar adalah proses seumur hidup,” yang kami anggap masih relevan. Apalagi buat organisasi sekaliber NU yang punya sejarah panjang dalam perjalanan bangsa ini.

JANGAN SEPELEKAN KIPRAH KADER NU

Kalau tadi bicara spesifik ke anak muda, sekarang lebih global, kader-kader NU. Mereka juga terlatih untuk menghadapi kedinamisan, keterbukaan, dengan cara membaca yang tetap integral. Nah, inilah ajaibnya kader-kader NU.

Contoh “membaca secara integral” adalah ketika kader-kader NU jauh-jauh hari menata pola relasi organisasinya yang tidak lagi sebatas mengandalkan modernisasi struktur. Tetapi juga mengombinasikan pilar-pilar kekuatan yang dimilikinya, salah satunya kekuatan kultural.

Banyak kader-kader NU yang juga berhasil membuktikan diri sebagai profesionalisme handal. Tak sedikit dari mereka ada yang berkiprah di dunia akademik, peneliti, wartawan, ahli IT, dan lainnya. Di pemerintahan dan lembaga-lembaga negara banyak yang sudah teruji.

Kemudian terlatih untuk mendesain program kerja yang terukur, termasuk mengukur risiko yang akan terjadi. Pengetahuan adalah pondasi kuat dalam perjalanan peradaban manusia.

Inilah yang kerap ditafsirkan sebagai mandat sosial dimana kader-kader NU didapuk menjadi pelaksana mandat sosial itu, dengan tetap mengacu pada permufakatan para kyai sebagai pengikat. Jadi jangan heran, banyak kader-kader NU menjadi pengayom masyarakat, tokoh-tokoh lokal dan nasional yang selalu didengarkan dan dimintai pendapatnya.

Ini artinya apa, jika ditanya apakah NU siap bertanding (politik, kekuasaan adalah pertandingan)? Jawabnya, sangat siap.

Banyak kader-kader NU di luar sana melakukan kerja-kerja nyata tanpa menggembar-gembor ke-NU-annya baik klandestin maupun terbuka, Mereka itu bukan orang-orang yang tiba-tiba menjadi NU dalam rangka memanfaatkan momentum politik.

Penulis: Ilham Baihaqi, Penggiat Lingkar Kaji Isu-isu Strategis, Jakarta

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.