Ketua MPR: Bisa Jadi Preseden Buruk di Era New Normal

Marak Pelanggaran di Masa PSBB

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengaku khawatir dengan maraknya pelanggaran protokol kesehatan pada periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pelanggaran itu bisa jadi preseden buruk dalam era penerapan pola hidup baru atau new normal.

Sebab itu, Bamsoet-sapaan akrabnya-meminta kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan PSBB. Bahkan, ia berharap aparat tidak membiarkan pelanggaran protokol kesehatan tersebut. Itu karena, risikonya sangat besar dan merugikan jutaan orang. 

“Saya prihatin dengan besarnya laju pertambahan jumlah pasien Covid-19 dalam beberapa hari terakhir. Laju peningkatan jumlah pasien yang cukup signifikan itu terjadi karena pembiaran atas ketidakpatuhan sekelompok warga pada protokol kesehatan,” ujar Bamsoet.

Mantan Ketua DPR ini menegaskan data pertambahan pasien Covid-19 yang cenderung meningkat, jadi bukti belum efektifnya peran aparatur pemerintah daerah mengawasi dan mengendalikan kepatuhan warga menjalankan protokol kesehatan sepanjang periode penerapan PSBB.

“Ketidakpatuhan pada protokol kesehatan terlihat nyata sejak sebelum hari raya, terutama di banyak pasar tradisional maupun di gerbong kereta rel listrik (commuter line),” tuturnya. 

“Kerumunan penjual-pembeli di pasar tradisional dan kepadatan penumpang di gerbong KRL rentan penyebaran Covid-19. Data Tim Komunikasi Gugus Tugas percepatan Penanganan Covid-19 menyebutkan bahwa lebih dari 400 pedagang di 93 pasar tradisional reaktif covid-19,” kata Bamsoet.

Maraknya pelanggaran di masa PSBB, kata Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini, bisa menjadi preseden buruk pada era penerapan pola hidup baru. “Ketentuan PSBB yang ketat saja tidak dipatuhi, apalagi terhadap ketentuan pola hidup baru dengan sejumlah pelonggaran,” tandasnya.  

“Karena itu, sebelum dan selama penerapan pola hidup baru, saya mengingatkan aparatur semua pemerintah daerah untuk makin peduli dan tegas dalam mengendalikan pergerakan atau mobilitas warga di ruang publik. Tidak boleh lagi ada pembiaran atas pelanggaran protokol kesehatan, karena risikonya sangat besar,” pungkas Bamsoet. (ism/kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.