Bisa Semoncer ini, Siapakah Sebenarnya Mentor Luhut

KABARINDONG- Pangkat Luhut Binsar Panjaitan, Jenderal TNI (HOR) (Purnawirawan). Meski bintang empat Luhut sebenarnya tidak pernah menjabat sebagai Pangdam apalagi Kasad. Jabatan terakhirnya ketika aktif adalah Dankodiklat TNI AD (1997-1998).

Luhut merupakan lulusan terbaik Akabri 1970. Dia termasuk perwira muda berkarier cemerlang. Sampai-sampai Panglima ABRI saat itu Jenderal TNI Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani menaruh perhatian khusus.

Saat berpangkat mayor, Luhut bersama Kapten Inf. Prabowo Subianto dikirim untuk belajar mengenai pasukan anti-teror di GSG-9 di Jerman Barat. Benny berpangkat Letjen dan menjabat Asintel Hankam/ABRI.

Benny yang dikenal sebagai ‘bapak intel’ kerap menghubungi Luhut, bahkan kerap menyuruh datang ke kantornya untuk menghadap. Ternyata kedekatan itu berdampak negatif bagi perjalanan karier Luhut di kemudian hari.

“Saya sering dipanggil menghadap Pak Benny di kantornya di Jalan Saharjo (sekarang lokasinya menjadi Balai Prajurit TNI), entah menanyakan pelatihan pasukan yang baru itu, atau lain-lain,” ungkap Luhut dikutip dari akun facebooknya, Rabu (24/7).

Seiring berjalan waktu, Benny yang tadinya begitu dipercaya Presiden Soeharto terpental. Prajurit-prajurit dianggap ‘orang Benny’ tak lagi mendapat pos strategis.

Luhut mengisahkan perjalanan kariernya. Memori itu kembali diingatnya seusai berziarah ke makam almarhum Benny di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata, beberapa waktu lalu.

Setelah pulang pendidikan di Jerman Barat, Luhut dipercaya memimpin pasukan anti-teror pertama di Indonesia yaitu Datasemen 81 (Den-81). Menteri Kemaritiman ini ingat betul dengan tanggung jawab barunya sering dipanggil menghadap Benny.

“Dari situ saya mendapat kesan khusus mengenai betapa ia memiliki karakter yang sangat kuat. Auranya memancarkan wibawa ditambah dengan wajahnya yang keras dan jarang tersenyum,” kata Luhut.

Dari situ, Luhut mengaku kagum dan bisa melihat loyalitas Benny kepada pimpinan negara dan NKRI. “Setiap kata atau tindakannya mencerminkan, menurut istilah masa kini, kesetiaan yang tegak lurus ke atas.”

Luhut mendapat penugasan memimpin operasi khusus mengamankan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di Kota Manila, Filipina. Saat itu Benny sudah jadi Panglima ABRI memberi pesan tegas ke Luhut.

“Luhut, sejak dua atau tiga tahun lalu, sudah banyak yang antre untuk menggantikan saya, tetapi orang ini (sambil menunjuk foto Pak Harto di dinding) kalau terjadi sesuatu pada dirinya Republik itu menjadi kacau,” ujar Luhut menirukan Benny.

Dengan tegas, Benny melanjutkan ucapannya. “Jadi Luhut, taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu. Sebagai perwira Luhut hanya menjawab. “Siap. Laksanakan.”

Karier Luhut mulai naik. Meski tidak terlalu cemerlang, namun kenaikan pangkatnya cukup lancar. Sebagai gambaran, tahun 1998 Subagyo H.S.–kawan seangkatan Luhut–menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan Prabowo Subianto menjadi Pangkostrad. Sementara Luhut hanya jadi Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD).

Setelah Soeharto lengser, Luhut jadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura selama setahun. Lalu ia juga terjun ke dunia usaha setelah tak sibuk sebagai perwira militer.

Luhut mulai menjadi menteri di masa Presiden Abdurrahman Wahid, yakni sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Di era Presiden Joko Widodo, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dari 2015 hingga 2016. Setelah itu tugasnya berganti menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dari 2016 hingga 2019.

Posisi Luhut seolah tak tergantikan. Memasuki periode kedua sebagai presiden, Jokowi lagi-lagi memercayai Luhut untuk tetap berada dalam kabinetnya. Kali ini ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Dan ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Covid-19, Jokowi menunjuk Luhut sebagai pelaksana tugas Menteri Perhubungan.

Pencapaian Luhut dalam kabinet yang dipimpin Abdurrahman Wahid dan Jokowi tentu saja melebihi apa yang pernah dicapai oleh Benny Moerdani. Jika Benny hanya berkutat di bidang pertahanan, maka Luhut merambah bidang perindustrian, perdagangan, maritim, investasi, dan perhubungan.

Hubungan keduanya dengan presiden juga cukup mencolok. Sekuat apapun Benny, Soeharto jauh lebih kuat sehingga ia pun ditinggalkan. Sementara hari-hari ini Luhut, paling tidak terlihat dari beberapa kebijakannya, seolah-olah lebih kuat daripada Jokowi.

Luhut mengungkapkan banyak pelajaran mengenai kepemimpinan dan kemiliteran yang dipelajari dari sosok Benny. “Dan saya akui, karena pengaruh Pak Benny itulah yang membuat saya tertarik pada masalah-masalah intelijen, di antaranya dalam memelihara jaringan (networking) dengan berbagai tokoh di dunia,” katanya.

Luhut ingat betul Benny mempunyai buku alamat kecil sudah lusuh berisi nama-nama tokoh penting dan nomor telepon hot-line yang bisa hubungi 24 jam sehari. Pengalaman berharga itu rencananya akan dituangkan Luhut dalam biografinya.

“Untuk sementara saya hanya bisa katakan, Rest in Peace Jenderal Benny. Hingga hari ini saya tidak mengecewakan harapan bapak.”

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.