Ketum FSB: Intoleran Koyak Kebhinekaan di Indonesia

Kelompok Laskar Bubar Acara Mododareni Keluarga Alm. Habib Segaf Al Jufri di Solo, Jawa Tengah

Sejumlah kalangan geram dan mengecak aksi intoleransi yang dilakukan Kelompok Laskar di Solo, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Salah satunya, Forum Satu Bangsa (FSB) yang menyayangkan aksi tersebut.

Seperti diketahui, sejumlah orang yang mengatasnamakan Kelompok Laskar mendatangi acara midodareni (doa di malam sebelum akad nikah) keluarga almarhum Habib Segaf Al-Jufri. Kelompok tersebut memaksa agar acara dibubarkan.

Tak hanya itu, sejumlah orang tersebut menyerang sejumlah kerabat Habib Segaf Al-Jufri juga merusak fasillitas dan sejumlah mobil.

“Tentu ini sangat disayangkan. FSB sangat prihatin dan menyesalkan peristiwa yang mengoyak sendi-sendi toleransi dan kebhinekaan masyarakat di Indonesia tersebut,” tandas Ketua Umum FSB, Hery Haryanto Azumi.

Menurut Hery, tindakan intoleran itu tidak bisa dibenarkan. “Ya, apapun alasannya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Perbedaan tidak dipandang sebagai berkah bagi bangsa. Melainkan sebagai realitas yang mengkhawatirkan bagi sebagian orang yang berpandangan tertutup dan kerdil,” tuturnya.

Aksi intoleran itu juga membuat pihak kepolisian Jawa Tengah geram. Polda Jateng pun langsung memburu para pelaku aksi intoleran. Dan, beberapa orang ditangkap dan lainnya masih dalam pengejaran.

Menanggapi kesigapan polisi, Herry memberikan apresiasi. Menurutnya, reaksi cepat polisi itu akan memberikan kepastikan hukum bagi setiap warga negara dan menjadi pelajaran bagi kelompok intoleran.

“Aksi-aksi intoleran tidak boleh dibiarkan karena akan berkembang menjadi terorisme yang lebih berbahaya,” terang Hery yang juga mantan Ketua Umum PB PMII itu.

Belajar dari peristiwa tersebut, Hery mengajak segenap bangsa Indonesia agar tidak terjebak ke dalam proxy war yang melibatkan isu Sunni-Syi’i di tanah air.

“Senyatanya, perbedaan telah menjadi khazanah bahkan sejak awal agama Islam berkembang di tanah Arabia. Di tanah Nusantara dmn perbedaan dan keberagaman dijunjung tinggi dan dirayakan secara resmi dalam pilar bernegara (Bhinneka Tunggal Ika), Islam juga telah larut sebagai etika sosial dan budaya yang diterima oleh segenap warga bangsa,” ujarnya.

“Forum Satu Bangsa mengajak seluruh organisasi keagamaan untuk selalu bahu membahu menyebarkan ajaran-ajaran agama yang penuh rahmah dan cinta kasih. Dengan selalu merawat kebhinekaan ini, agama akan menjadi faktor positif kemajuan bangsa,” pungkas Hery. (abe/kabarindong)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.